Kamis, 30 Mei 2013

KESEPAHAMAN MENUJU PERSATUAN

Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh
            Kali ini saya akan menuliskan apa yang telah dikatakan oleh Prof. DR. Quraish Shihab tentang kesepahaman menuju persatuan.
            "Tidak bisa ada perseteruan kalau tidak ada kesepahaman, tidak bisa ada kesepahaman kalau kita tidak memahami diri kita dan memahami pihak lain". kalau kita meneliti apa itu Syi'ah, kita harus berupaya untuk memahami siapa Syi'ah itu, tetapi memahami Syi'ah saja tidak cukup untuk terwujudnya kesepahaman kalau pihak yang diluar Syi'ah tidak memahami dirinya. karena itu kesepahaman perlu. boleh jadi sebab utama dari apa yang terjadi dalam masyarakat Islam di dunia dan apa yang terjadi di Indonesia itu sebabnya adalah kesalahpahaman. kalau kita persempit, kesalahpahaman sementara orang-orang Syi'ah terhadap madzhab mereka dan orang-orang Sunni terhadap madzhab mereka.
            Prof Quraish Shihab memperjelas persoalan tidak dimungkiri oleh siapapun bahwa Syi'ah itu atau yang dinamai Syi'ah itu banyak kelompoknya, sehingga kalau ada pendapat dari satu kelompok Syi'ah yang dinisbahkan kepada kelompok lain maka disini bisa timbul kesalapahaman.
satu contoh : ada Syi'ah Ismailiyah yang ada sekarang, ada Syi'ah Zaidiyah yang banyak di Yaman sekarang, ada Syi'ah Ja'fariyah yang ada sekarang, ada perbedaan-perbedaan antar mereka sekarang ini. dulu ada Syi'ah Al-Qatabiyah, ada Syi'ah Al-Qaramiqah, dan bermacam-macam (puluhan). kalau anda mengambil pendapat Syi'ah, katakanlah Al-Qaramiqah atau Al-Qatabiyah lalu anda nisbahkan kepada Al-Ja'fariyah akan terjadi kesalapahaman dan anda mendzolimi salah satu dari kelompok itu. kita tidak bisa memungkiri bahwa ada Syi'ah yang sesat, tidak bisa dipungkiri. bahkan ada kelompok Syi'ah yang menyesatkan kelompok Syi'ah yang lain. salah satu keluhan adalah anda mengambil pendapat-pendapat satu kelompok kemudian menyangka bahwa itu adalah kelompok yang lain lalu atas dasarnya anda menyesatkan kelompok yang lain, "ini karena tidak paham".
            Kalau dilihat disisi sunnah pun, semua sepakat bahwa jangan mudah mengkafirkan orang lain. Imam Ghazali berkata : "kalau seandainya anda mendengar kalimat yang di ucapkan seseorang, 99% diantaranya menunjukkan bahwa yang bersangkutan kafir, masih ada 1% yang memungkinkan dia dinilai beriman maka jangan kafirkan dia". jadi tidak mengerti dirinya, bisa jadi tidak mengerti dirinya dan tidak mengerti orang lain terjadilah cek-cok (perdebatan yang tidak menguntungkan).
            Ada perkembangan pemikiran, karena pemikiran-pemikiran apapun termasuk pemikiran keagamaan dipengaruhi oleh banyak faktor. bisa perkembangan ilmu, kemaslahatan, bisa kecenderungan seseorang dan banyak lagi faktor sehingga semua madzab pemikiran apapun pasti telah terjadi perubahan sedikit atau banyak menyangkut pendapat-pendapat. pasti!!
seperti contoh darwin sudah diubah oleh pendapat darwinisme yang baru, pendapat Syafi'i (jangankan dengan orang lain, dengan dirinya yang ada ketika dia di Irak akan berbeda ketika dia di Mesir), Salaf, Salafiyah yang sekarang itu berbeda pandangannya dengan pendapat Imam Ahmadi Muhammad, begitu juga dengan Syi'ah ada perkembangan misalnya tulisan Imam Qumaini menyangkut Taqiyah, itu beda dengan perkembangan sekarang. coba baca pendapat yang berkaitan dengan izin mengangkat senjata terhadap penguasa (dahulu tidak ada izin itu sampai datang imam). semua ada perkembangan pemikiran sehingga kalau orang ingin merujuk kepada suatu madzab dengan melihat pendapat-pendapat lama tanpa memikirkan pendapat baru, itu adalah salah paham.
            Kemaslahatan umat Islam mengantar sebagian tokoh-tokohnya untuk melakukan pendekatan-pendekatan berdasar pemikiran dan pertimbangan-pertimbangan baru. kalau tidak, itu adalah orang-orang yang terlambat lahir. jika ada seorang Sunni dan Syi'ah berdampingan dan bergandengan tangan (hidup damai), banyak sebagian orang yang membantah dan tidak setuju. karena mereka masih merujuk pada pendapat-pendapat lama yang boleh jadi tidak bersumber dari apa yang diuraikan sekarang ini, tapi cobalah kita harus membedakan antara pendapat intelektual ulama cendekiawan dengan pendapat orang awam. "kesalahan kita disini", sering kali kita mengukur pendapat suatu kelompok tidak merujuk pada pendapat para ulama-ulama (bisa jadi di Sunni dan bisa jadi di Syi'ah), tidak akan mungkin ada kesepahaman kalau seperti itu. maka dari itu rujuklah kepada pendapat ulama kelompok yang muktabar, jangan merujuk pada kelompok apa itu namanya yang sebenarnya tidak diakui sebagaian ulama, dan itu bukan hanya di Syi'ah, di Sunni pun banyak.
            Yang terpenting dalam konteks kesepahaman ini kita bersatu dalam aqidah, dan ketika kita bersatu dalam aqidah tidak harus rumusannya persis sama tapi yang penting kandungannya sama dalam artian kita tidak terikat dengan rumusan, kita terikat dengan kandungan apa yang dirumuskan itu maka akan terjadilah kesepahaman. tetapi kalau kita mau persis sepaham redaksinya itu tidaklah mungkin, kalau kesepahaman ini sudah terjadi maka akan mudah, apalagi kalau kita merujuk ke ulama-ulama kita sekarang baik yang Sunni maupun Syi'ah itu sebabnya dalam semua konferensi pertemuan-pertemuan yang diadakan berbagai ulama mereka sepakat. sejak tahun 1961 di Mesir sudah terbit apa yang dinamai dulu yaitu Mausu'at Jamal Abdul Nasir Al-Faqiyah, 8 madzab yang masuk dalam pertemuan para ulama-ulama itu 4 madzab Sunni dan 4 madzab Syi'ah dan mereka semua sepakat. tetapi sekarang banyak para ulama yang bisa dikatakan ulama gagal yang menghembus-hembuskan perseturuan.
            Kita harus kembali pada kesepakatan-kesepakatan yang selama ini sudah sangat baik seperti kesepakatan yang ada di Turki, Saudi Arabia, Qatar semuanya itu merujuk dan kita harus mampu untuk menjelaskan kepada masyarakat kita apalagi pada orang-orang awam bahwa sebenarnya kita bersaudara dan tidak perlu ada saling tegang, Surga terlalu luas sehingga tidak perlu hanya memonopoli Surga untuk diri sendiri Prof. DR. Quraish Shihab ).
Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Share